Kamis, 27 Juni 2013

ILMU MERUPAKAN HAK SISWA, BUKAN GURU!!!

Dalam konteks ini memang agak aneh didengarnya, namun apakah kita mengetahui bahwa sebenarnya siswa yang belajar dilembaga pendidikan merupakan hak bebas dalam menerima, mengkritik, memberi solusi/saran/masukan, dalam kelangsungan pendidikan mereka. Bukan hal yang bisa dispelekan begitu saja, namun akan menjadi persoalan serius untuk mendirikan karakter bangsa dalam hal pendidikan generasi mudanya. Memang kadang terlihat sengaja atau tidak yang jelas konteks ini sering dikeluhkan oleh banyak generasi muda, mereka seolah ingin berontak dengan budaya bangsa seperti ini, ingin teriak sekencang-kencangnya. Mengambil jalan lain dalam bertindak untuk kehidupannya dalam mencari ilmu, seperti membuat organisasi, kelompok atau hal semacamnya yang membuat mereka bangkit dari tidurnya hak dalam keterbatasan lembaga pendidikan formal. Mengambil contoh pada negeri sakura Jepang, negara yang merupakan paling aktif dalam generasi mudanya. Pemuda disana lebih banyak bergerak dalam hal mengekspresikan dirinya, ini bukan karena pendidikan formal nya yang bagus, tapi ini soal kebijakan negara nya yang menegaskan bahwa ”pemuda merupakan kedua tangan dari negaranya”. Ini jelaslah menjadi kepercayaan diri pemuda nya dalam hidup untuk menerima pendidikan dan berkarya. Banyak hal positif yang mereka lakukan sesuka hati, banyak hal yang mereka kerjakan untuk negara nya, dan banyak pula hasil mereka yang sangat dihargai oleh dunia. Janganlah heran bahwa negara ini menjadi negara yang maju, negara yang terus meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya dan negara yang menjadikannya displin dalam keberlangsungan hidup. Memang terlalu singkat contoh dari segi kehidupan di negara Jepang. Namun Indonesia merupakan pokok perbincangan utama dalam pembahasan ini.
Kembali lagi soal suara pemuda Indonesia saat ini, yang mana mereka hanya bisa diam ditengah desakan lembaga pendidikan yang semakin tidak memerdulikan suara dari muridnya dan hanya mementingkan hasil/nilai dari bidang studinya. Seorang murid yang aktif dalam sekolah nya hanya bisa pasrah karena sikap dari para guru yang hanya mementingkan tentang bagaimana dirinya member ilmu kepada murid, bekerja sesuai suarat perintah kerja, dan member nilai pada murid dari lembaga nya, sedangkan aktifitas penting dan komunikasi yang menjurus pada hal perdebatan dan perbincangan jarang sekali terjadi. Ini merupakan potret yang memalukian dari banyak nya contoh yang ada di negeri kita.  padahal dalam keadaan nyata muridlah yang mencari ilmu dan membutuhkan semua fasilitas termasuk hak dalam berpendidikan, tetapi sangat disayangkan ketika fasilitas utama yakni “guru” hanya merupakan panduan sedikit ilmu yang membuat generasi pelajar menjadi tidak aktif dan hanya bisa menerima begitu saja pada situasi pendidikan di negeri nya sendiri. Seolah mereka memang tampak diam dan berprestasi, tapi tidak lebih dari itu banyak hal yang mereka belum puas dalam karier nya mereka sendiri dalam hal berpendidikan. Pada hal ini sebenarnya murid memanglah objek dari suatu subjek pada lembaga pendidikan, tapi apakah “mereka” memahami bagaimana cara membuat objek mereka menjadi sangat luar biasa dan berprestasi untuk negaranya ?

Proses- proses memang telah dikerjakan pemerintah untuk mengantisipasi masalah ini, bahkan banyak pihak pun  yang mendukung nya. Kita seharusnya sadar sebagai pemuda/generasi penerus bangsa tidaklah lemah dan kaku dalam menguasai sepenuh ilmu yang telah kita dapat, kita masih dapat berkembang dan terus berkembang untuk mendapatkan semua apa yang kita inginkan, dan memang butuh keberanian untuk mengalahkan semua permasalahan ini. Jangan lagi menjadi generasi penerus yang hanya bisa terjajah dan larut oleh budaya- budaya buruk di negeri sendiri, tetapi lebih jauh dari itu kita bisa menjadi penolong sesama sebagai penyadar dari penjajah pendidikan yang terus berjalan disekitar kita.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar